Jumat, 24 September 2021

ARE U ALIVE?

nope.

i feel bored

really feel tired

so  i want to quit,immediately.


YES

i will!


but please 

remind me to keep it survived everywhere Id be belong

to keep me focus and finally  its on the right track and make me close with my ultimate goal

Jumat, 11 Juni 2021

Jangan jadi diri sendiri!!!

 Hallo, apa kabar? semoga teman2 yang berkesempatan membaca tulisan ini ada dalam keadaan terbaik sesuai harapan masing-masing yaa..

Tulisan ini dibuat di malam hari, di pojok kamar yang menghadap jendela kosan yang sudah hampir 10 bulan kutempati di Bandung. 

    "Ngapain di Bandung? Bukannya kamu domisili Ciamis? dan bukannya kamu udah lulus kuliahnya ya?"

Ya betul teman, aku asal Ciamis, dan alhamdulillah kuliah sarjanaku sudah selesai 1 tahun lalu dari program studi Rekayasa Pertanian ITB. Sekarang aku kembali berkutat dengan dunia akademik untuk memperoleh gelar selanjutnya, Magister Biomanajemen, tetap di kampus dan fakultas yang sama, SITH ITB! hehehehe :') 

    "Hoooo, emangnya ga cape? Ga cari kerja dulu?"

Cape? pastinya!! Harus mengambil lagi matakuliah, mengikuti kelas, dan mengerjakan tugas, tentunya selalu ada rasa cape yang dateng, apalagi 6 bulan kemarin aku udah fokus ngerjain penelitian akhir, a.k.a Tesis di Pangandaran... TAPI, entah kenapa rasa cape itu, sedih itu, kecewa, insecure, dan sebagainya ga menjadi halangan berarti buatku. Wajar aja gasi ngerasain hal yang menyedihkan? Malah kita sepatutnya menjadikan hal tersebut sebagai langkah kita untuk tetap dekat dengan pencipta kita, ngerasa jadi makin sadar dan bersyukur. Kalau lagi cape banget inget aja, masih ada hal yang lebih menyedihkan di luar sana atau di masa yang lalu yang pernah terjadi, namun orang itu atau dirimu sendiri sampai saat ini tetap kuat dan bertahan kan? jadi ya let it go aja, semangat! 

Nah gitu, jadi mungkin ada yang bertanya juga, "Kok baru masuk terus udah langsung Tesis-an lagi?"

JADI ya , alhamdulillah aku berkesempatan menjadi salah satu mahasiswa yang bergabung dalam program fasttrack, yaitu program percepatan masa studi S1 dan S2. Singkatnya ketika menjalani tingkat akhir dalam tahap sarjana (semester 7 dan 8), aku sudah mencicil 12 sks S2 termasuk matakuliah penyusunan proposal Tesis... pusing ga tuh? pusing bgt, tapi seru parah gilaa gaiss.. tingkat 4, nyusun 1 TA pribadi, 1 TA kelompok, ngejabat di himpunan, dan sambil nyusun proposal Tesis :D  tapi buat yang suka menantang dirinya masing-masing kaya aku ini, program fasttrack ini cocok banget sih.. Tekanannya tak terkira wkwk dannnn ada juga enaknya, dimana selain kita dapet kesempatan kuliah dengan waktu yang lebih cepat, program ini dibiayai secara FULL whehehe (kalo dapet beasiswa sih itu juga) tapi mostly anak2 fasttrack udah ga aku diragukan lg si xixixi 

Long story short....... Bandung malam ini (11/6/2021) habis diguyur hujan, yiiszzz!! dan entah kenapa tbtb aku teringat pengen nulis produktif, mulai dari tulisan keseharianku, atau tulisan2 yang bermanfaat lainnya (kalo ada), jadinya gini deh.

"LALU, 

APA HUBUNGAN JUDUL DENGAN TULISANNYA?

DARITADI BELUM 

TERNOTICE SESUATU YANG BERHUBUNGAN DENGAN JUDULNYA NEEEH 

??? "

hehehehe..

emang tadinya mau nyeritain beberapa tulisan, artikel, dan buku2 yang kasih inspirasi buatku akhir2 ini:D tapi SELALU bingung mulai dari mana.. langsung key takeways nya aja kali ya? wkwkkw

Jadi intinya tuh, kita jangan mau untuk terus menjadi diri sendiri, menjadi pribadi yang itu-itu aja, orang bilang 'be your self' aja itu menurutku jangan dijadikan pegangan. 

Sebagaimana apa yg Charles Darwin, si ahli teori evolusi, bahwa manusia yang bertahan itu bukan yang terpintar atau terkuat, TETAPI yang bisa beradaptasi. JADI kita harus terus memperbaiki diri, self improvement, be better person, menjadi lebih baik. Yang udah OKE pertahankan, kalau bisa bagi dan tingkatkan, sedang yang masih belum OKE, lekas perbaiki dan minimize. setuju? tentu!

hehehe 

Pokonya dimanapun, kapanpun, dalam situasi apapun, we should be improve and adapt to the challenges.. Mulailah dari hal kecil dan konsisten. Percayalah nanti kita akan menuai apa yang telah kita lakuin itu. SEMANGAT!! 

Jadi keinget pas awal aku masuk ke ITB, kampus yang sangat kompetitif. Tingkat pertama aku sangat optimis dengan diri sendiri, kebanyakan belajar sendiri, dan fokus aja ga main bareng temen karena ngerasa belajar sendiri itu lebih efektif dan tentu untuk mempermudah dapetin target nilai memuaskan (cumlaud) pas lulus, bcs pas SD-SMA aku selalu belajar individual dan hasilnya oke bgt (selalu juara 1-3 terus) hehehe .. Tapi guys hasil kerjaku itu ga sesuai harapan sekali, pas di semester awal pengumuman nilai, IP ku masih dibawah 3, dari target 3,5 buat cumlaud:') tertampar sekali.. 

dannnn yahhh aku melihat bahwa ternyata aku terlalu PD pada kemampuan diri sendiri, singkat cerita abis dapet nilai itu aku shock dan yahh mikir gimana cara utk memperbaikinya :D dan gimana yaa, aku nemu buku / artikel/ post IG gitu pokonya yang ngubah mindset untuk berubah, dan kayanya cocok sama kondisiku waktu itu. 

dari situ aku mulai terbuka, perbanyak belajar kelompok, cari metode baru, nyari mentor dll, daannnn hasilnya, di semester 2 aku bisa bayar keterpurukan aku dengan cukup puas sih:D, hasil akhir IPK tingkat pertama bisa nutupin nilai semester 1 jadi diatas tiga wkwkkw (wlopun lebih dikit, jadi 3.05 klogasalah) dan banyak relasi lain karena disitu aku ga terlalu mentingin akademik aja, tp ikut unit mahasiswa, paguyuban, dan lainnya yang ngerubah banget diriku dalam jangka waktu yg berkelanjutan ehehehe

nah berdasarkan pengalaman itu aku belajar kalo emang trnyata menjadi pribadi yang fixed mindset itu kurang baik utk diterapkan. Walaupun secara akademik kita emang diatas rata-rata, tapi kita perlu memperbaiki itu semua dengan berbagai softskill, relasi, dll Mindset atau kebiasaan untuk ga jadi diri sendiri ini membawaku keberbagai pencapaian lain selama kuliah, salah satunya menjadi mahasiwa fasttrack ini, dapet berbagai beasiswa, organisasi, temen, dan secara akademik juga ikut kebantu (dari ip 2.88 di semester 1 2016 bisa di-carry sampe 3.68 diakhir kuliah, dimana sejak semester 6 sampe sekarang S2 udah mau luluspun alhamdulillah selalu dapet ip 4.00 wkwkkwk :D 



yaaaaaa

asiiiikk

alhamdulillaaah


gitu ae dah ya, ga kerasa ujang udah berenti, dan playlist utube yg nemenin penulisan di blog ini udah berganti, semoga bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini, siapapun dan kapanpun itu. LET SHARE UR STORIES WITH ME TOO, jangan sungkan, jangan ragu, aku selalu senang untuk berbagi, membantu, dan berkomunikasi  dengan klian hehe hit me in instagram, linkdn, twttr, email or anything.. THANKS!!!!

Jumat, 09 Oktober 2020

Relevansi Teori-Teori Perdagangan Internasional yang Sekarang Dianut dengan Kecenderungan Pelaksanaan di masa dan pasca pandemi Covid-19.

Hai! Udah lama jarang publikasi tulisan nih. Masih hangat-hangatnya dalam ingatan tentang fenomena COVID19 yang mengganggu semua bidang kegiatan masyarakat di dunia, aku sempet nulis tentang gimanasih pengaruh dan relevansi fenomena ini terhadap kegiatan perdagangan Internasional beberapa bulan lalu. MARI KITA SIMAK! SELAMAT MEMBACA :) šŸ‘‡

Wabah pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) terus menyebar dengan cepat ke hampir semua negara di dunia. Berdasarkan catatan Kementrian Kesehatan pada 2 September 2020 ini jumlah kasus Covid-19 di Indonesia adalah 180.646 kasus dengan 129.971 orang di antaranya telah dinyatakan sembuh (71.95%) dan 7.616 orang meninggal dunia (4.22%). Hal tersebut tentunya mempengaruhi keberjalanan akan rantai perdagangan internasional yang ada di Indonesia salah satunya adalah perdagangan komoditas rempah-rempah secara internasional.

Meski telah ada kebijakan pemerintah dan organisasi internasional untuk melakukan pembatasan dan hambatan dalam distribusi barang/jasa selama pandemi Covid-19 ke berbagai negara importir, ternyata pertumbuhan ekspor rempah Indonesia mengalami peningkatan. Tingginya permintaan rempah-rempah di masa pandemi disebabkan berbagai negara mulai menyadari manfaat dari rempah Indonesia tersebut bagi kesehatan dan menambah imun tubuh (Alika, 2020). Diketahui  menurut Kementerian Perdagangan dalam masa pandemi ini ekspor rempah Indonesia pada Januari hingga April 2020 mencapai US$ 218,69 juta atau naik 19,28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode Januari-April 2020, rempah yang paling banyak diekspor antara lain yakni lada (18,7%), cengkeh US (17,04%), pala (12,11%), dan bubuk kayumanis (11,61%) (Pradana, 2020).





Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah dan didukung oleh kondisi iklim tropis yang menyebabkan berbagai tumbuhan terutama rempah-rempah yang memiliki banyak keunggulan dan potensi tumbuh subur sehingga menjadikannya sebagai suatu keunggulan komparatif yaitu bahan baku yang dapat diperoleh lebih murah dibanding negara maju lain yang harus mendatangkan rempah yang sangat bernilai tersebut dari tempat lain dengan biaya transportasi yang sangat mahal (Amelia, 2016). Sebelum masa pandemi Covid-19 ini keunggulan komparatif tersebut memang dinilai sebagai suatu peluang yang dijadikan oleh Kementrian Perdagangan dan pihak terkait untuk meningkatkan devisa negara. Kemudian walaupun terjadi pembatasan, permintaan akan rempah menjadi semakin meningkat dan membuat perdagangan atau impor pun menjadi semakin tinggi pula, namun dengan berbagai proses atau karantina yang lebih ketat dibanding sebelumnya. Salah satu yang membedakan atau menjadi mekanisme baru dalam proses perdagangan ketika pandemi atau sesudah pandemi ini adalah dengan diberlakukannya pengembangan sertifikasi produk dan peningkatan food safety mulai dari tingkat petani. Sehingga, produk rempah harus dipastikan dahulu terbebas dari Salmonella, Aflatoksin, dan patogen lain yang dikhawatirkan mampu memberikan dampak yang tidak diinginkan.

Kondisi pandemi Covid-19 ini seharusnya tidak menjadi suatu alasan atau hambatan bagi para pelaku bisnis untuk memasarkan produknya ke berbagai negara. Hal ini seharusnya dijadikan suatu peluang baru yang menjanjikan dengan cara beradaptasi dan menciptakan mekanisme atau keunggulan baru. Sehingga keunggulan kompetitif yang dimiliki dan dianut oleh Indonesia mampu bertransformasi menjadi suatu keunggulan kompetitif dan inovatif (innovative advantage) yang kedepannya bisa terus dipadukan dengan inovasi dan integrasi dengan perkembangan teknologi sehingga pada akhirnya menciptakan devisa negara meningkat dan kesejahteraan yang lebih baik bagi semua pihak (Narastika & Yasa, 2017).

Lalu bagaimana mengenai relevansi kebijakan yang dicanangkan dapat mendorong kinerja Perdagangan Internasional di masa dan pasca pandemi Covid-19?

Perdagangan Internasional di tengah pandemi menyebabkan pemerintah dan berbagai lembaga beradaptasi dan berupaya agar hal tersebut mampu dihadapi dengan baik, salah satunya dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan atau aturan baru dalam skema perdagangan. Sebagai salah satu adanya kebijakan yang diberlakukan adalah mengenai pembatasan impor pada berbagai produk pertanian di Indonesia dibandingkan sebelum pandemi terjadi. Menurut Effendi et al. (2020) sejauh ini terdapat kurang lebih 80 negara yang telah mengambil langkah untuk melakukan larangan dan pembatasan ekspor akibat pandemi Covid-19. Hal tersebut memang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 yang semakin meresahkan, namun seiring berjalannya waktu hal tersebut membuat kondisi kebutuhan pangan terutama di dalam negeri menjadi memuncak harganya. Seperti yang telah terjadi pada bulan April-Mei lalu dimana adanya kebijakan pembatasan impor menyebabkan harga gula di pasaran melambung tinggi melebihi Harga Eceran Tertinggi sebesar Rp. 12.500,00- per kg menjadi Rp. 20.000,00- per kg akibat keterlambatan impor yang telah dibatasi.

Selain kebijakan tersebut, Pemerintah Republik Indonesia pun mengeluarkan kebijakan terutama untuk meningkatkan kinerja perdagangan dan pertumbuhan ekonomi karena jika tidak hal tersebut tentu akan membuat dampak yang semakin panjang bahkan krisis suatu saat nanti. Kebijakan yang telah diambil diantaranya disampaikan oleh Menteri Perdagangan Agus Suparmanto untuk membuat para pelaku usaha agar lebih memprioritaskan produk dalam negeri untuk dipasarkan dalam menumbuhkan perekonomian Indonesia, khususnya di tengah pandemi Covid-19. Sedangkan untuk  perdagangan internasional Kementerian Perdagangan terus berupaya untuk memastikan terlebih dahulu akan penyediaan bahan baku untuk industri domestik yang mulai bangkit dan memiliki potensi di masa pascapandemi, salah satunya industri kesehatan baik itu berupa peralatan kesehatan hingga bahan-bahan obat atau herbal yang memiliki potensi tinggi dari keanekaragaman hayati Indonesia yang cukup beragam.



Berkaitan dengan perdagangan komoditas rempah yang terus meningkat tingkat permintaan seperti penjelasan sebelumnya, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk mendorong penetrasi ekspor tersebut ke negara non-tradisional seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Pakistan. Hal tersebut bukan hanya untuk meningkatkan devisa negara, tetapi dilakukan untuk membantu kebutuhan di manusia di negara lain yang membutuhkan bantuan, terutama obat-obat atau herbal untuk menjaga kesehatan imun dalam menghadapi COVID-19 ini. Hal ini dianggap sebagai salah satu bagian dari langkah strategis Kementerian Perdagangan  yang berpedoman pada PERPPU Nomor 1 Tahun 2020, Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2020, dan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 salah satunya dengan memberikan stimulus ekonomi ekspor dan tetap menggiatkan perdagangan internasional melalui forum-forum tertentu seperti forum G20.

Relevansi kebijakan yang telah dibuat pemerintah terkait perdagangan internasional setelah pandemi ini seharusnya tidak bersifat proteksionisme karena kebijakan ini akan mengganggu kelancaran dan ketersediaan pasokan di pasar yang akan berujung pada kelangkaan maupun meningkatnya harga. Pemerintah seharusnya tetap menjalankan kesepakatan atau kerjasama dengan negara lain sesuai kesepakatan Free Trade Agreement (FTA) untuk dapat meningkatkan arus investasi, membuka pasar untuk produk ekspor, mengurangi hambatan perdagangan antarnegara baik yang berupa pengurangan/eliminasi tarif serta pengurangan hambatan nontarif (Saputro, 2020).


Kamis, 14 Mei 2020

STUDI ETIKA GURU SEKOLAH DASAR DALAM MENGHADAPI KEBIJAKAN STUDY FROM HOME



Pendahuluan

Awal tahun 2020, dunia dikejutkan dengan adanya fenomena baru berupa kemunculan virus yang melanda Wuhan, China sejak Desember 2019. Virus tersebut menjadi sebuah pandemi mematikan yang menginfeksi sistem pernafasan dan kemudian diumumkan sebagai virus baru dari jenis corona yang kita kenal dengan nama COVID19. Penyakit ini sudah menyerang hampir di seluruh belahan dunia mulai dari Eropa, Amerika Serikat dan Asia dan mulai menimbulkan kekacauan di Afrika dan Amerika Selatan (Rahmawati, 2020).


Pandemi COVID-19 menjadi sebuah krisis kesehatan terbesar di dunia pada abad ke-21 ini. Banyak negara  memutuskan  untuk  menutup  fasilitas umum seperti tempat ibadah, bandara, sekolah, pusat perbelanjaan, dan lain sebagainya.  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  mengemukanan bahwa selain sektor ekonomi dan pariwisata,  pendidikan  menjadi  salah satu  sektor  yang  begitu  terdampak  oleh  virus COVID19 ini. Berdasarkan laporan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), lembaga yang mengurusi bidang pendidikan, sains, dan kebudayaan dunia, menyebutkan bahwa dengan adanya pandemi ini, kegiatan belajar mengajar secara tatap muka menjadi telah dihentikan untuk lebih dari 91% populasi siswa di dunia atau sekitar 1,6 miliar anak-anak dan remaja (UNICEF Indonesia, 2020). Kebijakan mengenai pemberhentian kegiatan belajar mengajar yang diambil oleh pemerintah Republik Indonesia menjadikan mereka menghadirkan alternatif proses pendidikan bagi peserta didik maupun mahasiswa yang tidak bisa melaksanakan proses Pendidikan secara langsung pada Lembaga pendidikannya. 
Menurut Tanyid (2014), pendidikan sendiri telah dilaksanakan semenjak manusia hadir di muka bumi dengan sebuah tujuan awal untuk sekadar mempersiapkan generasi muda agar bisa survive di tengah masyarakat luas. Di tingkat sekolah dasar, kegiatan pendidikan memiliki peran penting karena merupakan tahap awal dalam pemberian materi dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung. Sehingga guru disana memiliki peran yang penting dalam mengasah potensi dan karakter para siswa. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi dengan teratur. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Tumbuh kembang siswa di sekolah menjadi tanggung jawab guru sehingga siswa akan mencapai kematangannya secara emosional, fisik, psikis, intelejensi, kepribadian, dan social (Sakti, 2018).
Dalam kondisi di tengah pandemi ini, tidak semua guru memiliki kesiapan untuk tetap melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai pendidik dalam mengajar insan-insan penerus bangsa. Disatu sisi mereka memiliki tanggung jawab untuk tetap memantau dan membina wawasan dan kinerja pendidikan siswanya, namun disisi lain kapasitas dan kondisi secara umum belum memungkinkan untuk mencapai tujuan awal pendidikan tersebut secara komprehensif.
Jika kondisi seperti ini terus meningkat dan belum bisa diselesaikan, maka sudah bisa dipastikan dampaknya terhadap sektor pendidikan di masa sekarang dan yang akan datang juga akan semakin sulit. Terdapat pertanyaan besar tentang alternatif pendidikan secara online ini, apakah mampu dijangkau dengan merata oleh semua siswa sekolah dasar di Indonesia?  dan bagaimanakah posisi dan peran Guru sebagai tenaga pendidik menghadapi dilema akan tugasnya dalam mendidik siswa tersebut?

Etika dalam Pendidikan
Dikutip dalam Kimber dan Crinston (2011), studi etika telah menjadi fokus perhatian dalam pendidikan selama beberapa dekade terakhir (Campbell, 1997). Perhatian ini  ada karena pendidikan adalah kegiatan moral dan etis yang sarat nilai (Hodgkinson, 1991). Namun apa itu etika? Singer (1993) telah menyebutkan bahwa etika adalah tentang hubungan pribadi kita dengan orang lain. Etika merupakan suatu kumpulan asas, nilai, atau moral menjadi pedoman seseorang dalam berperilaku. Etika juga berkenaan dengan hal baik dan hal buruk atau benar dan salah dalam berperilaku yang di dalamnya terdapat hak dan kewajiban moral seseorang dalam hidup bermasyarakat (Gunawan, 2015).
Menurut Bayles (1981) dalam Rowan dan Zinaich (2003) pada buku yang berjudul Ethics for the Professions mengatakan bahwa sebuah etika profesional bersumber dari etika umum dan hanya merupakan spesifikasi lebih lanjut dari etika umum tersebut. Etika profesional harus dipegang oleh setiap orang dalam bekerja, sebab etika profesional merupakan pertimbangan etis dan pedoman profesional yang relevan pada setiap profesi (Rodrƭguez dan Juričić, 2018). Sehingga dapat dipahami bahwa setiap profesi tentu memiliki etika profesi yang berbeda dengan profesi yang lainnya yang memiliki tanggung jawab, integritas, dan objektivitas (Sultoni et al., 2018)
     Dalam dunia pendidikan, etika memegang peran penting sebagai suatu acuan dan dasar dalam memberikan pendidikan bagi peserta didik. Seorang pendidik harus memegang prinsip etika pendidikan dengan baik agar mampu membentuk insan akademis yang berbudi.  Etika yang dijalankan guru atau tenaga pendidik ini sebaiknya dapat diimbangi dengan wawasan pengetahuan yang menyeluruh. Orang tertentu yang terpilih menjadi seorang guru tentu memahami kode etik guru. Seorang guru menerapkan kode etik tidak hanya di lingkungan sekolah saja melainkan di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Guru harus bisa memahami dan menerapkan kode etik guru sesuai hasil keputusan Kongres XXI Persatuan Guru Republik Indonesia Nomor: VI / Kongres /XXI/ PGRI/ 2013. Hasil dari kongres tersebut adalah kewajiban guru antara lain kewajiban umum, kewajiban terhadap peserta didik, orang tua/wali, profesi guru, organisasi, masyarakat umum, hingga pemerintah (Purwanto et al., 2020).


Teori Etika dalam Kasus Study From Home pada Siswa Sekolah Dasar  
Kegiatan pembelajaran secara jarak jauh atau lebih dikenal dengan Study From Home pada situasi ini menyebabkan berbagai dampak yang cenderung negatif terhadap kualitas pendidikan bagi anak sekolah dasar. Study From Home (SFH) berdasarkan konsep etika tidak bisa secara langsung dinilai sebagai perbuatan yang benar atau salah. Seperti yang dijelaskan sebelumnya sesuatu yang dinilai dengan sudut pandang etika memiliki penilaian yang tergantung dengan sisi mana yang teori itu dipakai. Namun sebagai manusia pada umumnya kita menghendaki secara logika bahwa dengan adanya study form home ini merupakan hal yang bersifat baik walaupun menyebabkan berbagai dampak negatif pada berbagai pihak, mungkin sudut pandang yang dipakai dalam studi kasus ini merupakan teori ethical relativism.  Menurut ethical relativism, baik buruk suatu perbuatan akan dinilai berdasarkan waktu dan lokasi perbuatan tersebut dilaksanakan, yang mana hal ini akan menyesuaikan dengan kondisi tatanan atau latar belakang seperti budaya atau kebiasaan masyarakat setempat (Lewis dan Unerman, 1990).
Dampak adanya SFH bagi siswa sekolah dasar di Indonesia akan mengalami berbagai tantangan. Tantangan yang paling besar yaitu fasilitas terhadap akses pendidikan yang diberikan. Mungkin bagi anak-anak yang tinggal di perkotaan akan memiliki kesempatan yang lebih baik terhadap akses pendidikan dengan sistem SFH ini, namun untuk mereka yang berada di luar daerah perkotaan akan mengalami banyak kesulitan seperti fasilitas laptop, komputer ataupun handphone yang akan memudahkan murid untuk menyimak proses belajar mengajar online, sehingga pemerataan kualitas pendidikan tidak akan sama, walaupun dalam satu sekolah atau daerah sekalipun yang ditambah dengan kurang adanya bimbingan guru secara langsung terhadap kinerja siswa. Tantangan lain yang menjadi perhatian adalah minimnya budaya belajar jarak jauh atau SFH karena selama ini sistem belajar dilaksanakan adalah melalui tatap muka, murid terbiasa berada di sekolah untuk berinteraksi dengan teman-temannya, bermain dan bercanda gurau dengan teman-temannya serta bertatap muka dengan para gurunya, dengan adanya metode pembelajaran jarah jauh membuat para murid perlu waktu untuk beradaptasi dan mereka menghadapi perubahan baru yang secara tidak langsung akan mempengaruhi daya serap belajar mereka (Purwanto et al., 2020).

Dilema Etika dan Peran Guru Dalam Menghadapi Kebijakan Study From Home  
Posisi guru adalah penting dalam keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Namun di tengah kondisi seperti ini, berbagai kasus muncul yang menjadikan mereka mengalami dilemma moral atau etika sebagai tenaga pendidik. Menurut Duignan (2006) dilema etika sendiri merupakan suatu kondisi sulit dan menantang yang memerlukan satu pilihan keputusan diantara beberapa kemungkinan yang sama-sama tidak dikehendaki. Situasi dilema etika dalam dunia pendidikan yang dialami oleh para guru atau tenaga pendidik dapat bersumber dari empat hal pokok yaitu peserta didik, keuangan dan sumber daya, personel sekolah, serta hubungan dengan pihak eksternal sekolah (Cranston, 2006).
Dalam menghadapi kondisi Study From Home akibat wabah COVID19, guru sekolah dasar idealnya harus tetap memastikan kegiatan belajar-mengajar  para siswa berjalan meskipun peserta didik berada dirumah. Sesuatu yang menjadi kendala lain pun yakni pada hasil evaluasi belajar siswa. Telah dijelaskan pula dalam beberapa studi seperti dalam artikel Kimber dan Cranston (2011) yang menyebutkan bahwa dalam kondisi akhir hingga kondisi cukup darurat seperti sekarang, rata-rata guru akan terancam untuk mengesampingkan integritasnya dalam hal penilaian kinerja siswa. Seorang guru akan merasa terbebani dari tuntutan dan harapan dari orang tua murid dan masyarakat untuk bisa membuat peserta didik memiliki nilai yang cemerlang atau paling tidak lulus dalam tahapan kelas pembelajaran. Namun sebagaimana kita ketahui saat ini situasi darurat menambah tantangan bagi guru untuk memberikan penilaian secara adil sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Bagi seorang guru sekolah dasar, rasanya memberikan penilaian yang dibawah rata-rata yang menyebabkan siswa tidak naik kelas dinilai sebagai suatu kegagalan yang berbeda rasanya bagi seorang guru atau tenaga pendidik di tingkat yang lebih tinggi. Maka dari itu, dalam menghadapi suasana tersebut, bukan hanya peran guru sajalah yang perlu diperhatikan, namun peran berbagai pihak pun sebaiknya dapat lebih ditingkatkan. Sebagai contoh bagi orang tua murid peran sebagai pembimbing dan pendidik utama anak harus menjadi ekstra. Kemudian bagi para pemangku kebijakan dalam dunia pendidikan sebaiknya bisa memberikan kelonggaran terhadap penilaian kinerja siswa untuk lebih bertanggung jawab, salah satunya dengan membuat kebijakan baru terhadap mekanisme penilaian atau evaluasi belajar darurat.

Kesimpulan
Pandemi COVID19 menyebabkan kerugian berbagai sektor, salah satunya sektor Pendidikan yang menyebabkan kondisi belajar mengajar di kelas dihentikan. Hal tersebut membuat kualitas pendidikan semakin tidak merata yang menyebabkan krisis dan dilemma etika bagi para guru, salah satunya guru sekolah dasar. Oleh karena itu perlu peningkatan tanggungjawab dan peran guru yang lebih tinggi dan didukung oleh berbagai pihak seperti pemerintah, orang tua siswa, dan masyarakat itu sendiri.

Daftar Pustaka

Campbell, E. (1997). Administrators’ decisions and teachers’ ethical dilemmas: Implications for moral agency. Leading & Managing, 3(4), 245-57.
Cranston, N., Ehrich, L.C., & Kimber, M. (2006). Ethical dilemmas: The ‘bread and butter’ of educational leaders lives. Journal of Educational Administration, 44(2), 106-121. 
Duignan,P. (2006). Educational leadership: Key challenges and ethical tensions. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Gunawan, I. (2017). Landasan Dasar Pendidikan. Malang: Universitas Negeri Malang, Penerbit UM Press.
Hodgkinson, C. (1991). Educational leadership: The moral art. Albany, NY: Suny Press.
Kimber, Ehrich, L. C., , M., Millwater, J., & Cranston, N. (2011). Ethical dilemmas: A model to understand teacher practice. Teachers and Teaching: theory and practice, 17(2), 173-185.
Lewis, L., & Unerman, J. (1999). Ethical relativism: a reason for differences in corporate social reporting?. Critical Perspectives on Accounting, 10(4), 521-547.
Rahmawati, Y. (2020). Dari China, Begini Awal Penyebaran Virus Corona ke Seluruh Dunia . [online] https://www.suara.com/health/2020/04/04/183648/dari-china-begini-cara-penyebaran-virus-corona-ke-seluruh-dunia?page=all diakses pada 1 Mei 2020 pukul 14.18.
Rodrƭguez, J. V., dan Juričić, Z. (2018). Perceptions and Attitudes of Community Pharmacists toward Professional Ethics and Ethical Dilemmas in the Workplace. Research in Social and Administrative Pharmacy, 14(5), 441450.
Rowan, J., & Zinaich, S. (2003). Ethics for the professions (p. 464). Wadsworth/Thomas Learning.
Sakti, B. P. (2018). Etika Dan Profesi Guru SD Di Tengah Perkembangan Zaman. [online] https://www.researchgate.net/publication/329540852_etika_dan_profesi_guru_sd_di_tengah_perkembangan_zaman diakses pada 1 MEi 2020 pukul 16.55.
Singer, P. (1994). Introduction in ethics. Oxford: Oxford University Press.
Sultoni, S., Gunawan, I., & Sari, D. N. (2018). Pengaruh Etika Profesional Terhadap Pembentukan Karakter Mahasiswa. Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan, 1(3), 279-283.
Tanyid, M. (2014). Etika Dalam Pendidikan: Kajian Etis Tentang Krisis Moral Berdampak Pada Pendidikan. Jurnal Jaffray, 12(2), 235-250.
Unicef Indonesia. (2020). Jangan biarkan anak-anak menjadi korban tersembunyi pandemi COVID-19. [online] https://www.unicef.org/indonesia/id/press-releases/jangan-biarkan-anak-anak-menjadi-korban-tersembunyi-pandemi-covid-19 diakses pada 4 Mei 2020 pukul 22.52.


Jumat, 20 Maret 2020

SAYA KEMBALI

HALOOO
AKU DATENG LAGI ... GAMAU KALAH SAMA DITO YG SEKARANG RAJIN NGEBLOGGGGG HEHE
SEMANGAT GUH!!!

Rabu, 19 Juni 2019

MAAF

ya jd udh mw KP, makin sini makin males utk ngapa2in..
maap harkos juga hehehehhe
nanti dilanjut kalo sempat ya :D

Selasa, 11 Juni 2019

Rekayasa Pertanian ITB


Rekayasa Pertanian 

Oke kembali lagi, aku yang menguasai blog ini akan mulai lagi bercerita dan berbagi kisahku selama ini hehe mencoba lagi bagaimana memulai untuk mencurahkan isi pikiran dan pengalaman yang telah didapatkan kepada dunia luar, agar yang lain pun (mungkin saja ) dapat mengambil manfaat dari pengalamanku atau kisahku ini.



Udah lama ya ga nulis2 kaya curhat2 gitu, … sebenernya aku juga jarang sih mencurahkan isi hati di medsos atau di blog ini juga,  Cuma sebatas cuitan2 pendek yang dikeluarkan saat aku ada dalam masalah juga.. Jadi mungkin kalo tulisan ini agak berantakan, gak terstruktur, dan membingungkan mohon di maapkan ya ^^

Ini juga aku nulis karena lg kosong libur semester, dan FYI aku sekarang lg di wifi.id corner untuk nyari2 info dan persiapan buat ngelanjutin kuliah aku ke S2 :D (fasttrack, insyaaAllah). Di kesempatan kali ini aku mau carita soal jurusan kuliah ku ini temannnn… YAP!! Sudah 2 tahun lamanya aku menjelajahi dan bernaung di program studi yang bikin aku jatuh bangun karenanya… ya jatuh  karena beban kuliah yang cukup menyita pikiran, uang, dan tenaga juga BANGUNNYA karena banyaknya kebahagiaan yang aku dapatkan karena berbagai hal itu, bahagia dapet ilmu baru, teman baru, pengalaman, canda tawa teman seperjuangan, dan banyak lagi yang intinya membuat aku jangan menyerah sampe titik manapun. POKOKNYA harus selesaikan semua yang udah dimulai, jalani, dan tetep fokus untuk menghasilkan sesuatu yang berguna nantinya hehe….

OKE,, REKAYASA PERTANIAN ITB. Penjelasan tentang prodi ini mungkin sudah banyak disinggung dibeberapa blog dan website, kalian bisa mencarinya juga disini mungkin:
  1.  WEB Rekayasa Pertanian
  2.  BLOG kaka tingkat (http://neduhdulu.blogspot.co.id/2016/02/kupas-tuntas-fakultas-sith-r-itb.html ,,,, http://alifnissaastrima.blogspot.com/2014/03/belajar-pertanian-di-itb-kenapa-enggak.html
  3.   Akun Instagram angkatanku @sithr16 
  4.   OA/website kursus dll dll nya juga kali ya :D https://kinibisa.com/universitas/detail/universitas-negeri/institut-teknologi-bandung-itb/sekolah-ilmu-dan-teknologi-hayati-program-rekayasa/rekayasa-pertanian


Nah seperti yang udah diceritain diatas, jadi ya secara ringkas bahwa jurusanku ini sesuai pernyataan salah satu dosenku, Pak Robert Manurung, merupakan salah satu disiplin ilmu yang mempelajari tentang pengaplikasian ilmu hayati dalam bidang pertanian secara luas (perkebunan, peternakan, dan perikanan) yang didasarkan dari hukum2 atau teori2 keteknikan seperti Termodinamika, Neraca Massa dan Energi, Peristiwa Perpindahan, Momentum, dan lain sebagainya dimulai dari lingkup individu hingga struktur kompleks suatu polpulasi atau komunitas.

JUJUR sih sebenernya aku juga belum terlalu paham apa concern dari jurusan ku ini, walaupun sekarang aku sudah masuk TINGKAT AKHIR disini :D tapi ya aku ikut2 aja berusaha survive semaksimal mungkin agar bisa terus lanjut hingga lulus aaaammmmiiin :D  intinya ini merupakan jurusan baru di ITB, umurnya baru 7 tahun pada 2019 ini, dan aku merupakan angkatan ke 5 sejak tahun 2012.

Hingga saat ini, pengalaman ku di BA (bioagriculture, kode jurusanku) CUKUP MENYENANGKAN, dari atmosfir kuliah, pertemanan, akademik, dan lain2 nya mampu aku hadapin dan membuatku nyaman beraktivitas, walaupun aku termasuk mahasiswa yang salah langkah dalam menentukan jurusan kuliah ini, aku masih bisa bertahan kok,, jadi temen2 disini jangan kuatir kalo mau ambil jurusan ini, aku yakin seperti penjelasan di link yang aku kasih tadi pasti prospeknya bagus untuk bekal teman2 nantinya. Penjelasanku disini juga mungkin aku bagi2 kedalam beberapa kali postingan ya… Sekilas highlight yang akan aku jelasin adalah sebagai berikut:

  1.  Kurikulum perkuliahan (mata kuliah2 yang ada, kegiatan perkuliahan, dosen dll)
  2. Suasana pembelajaran (aktivitas praktikum, suka duka, asrama, himpunan, dll)
  3. Tips2 atau fun fact BA
  4. Cara survive dan NR >3,5 tiap semester :D (hingga sekali dapet NR= 4,00) kwkwkw

Apapun itu lah pokonya aku nargetin ada 5 kali postingan tentang jurusanku ini di blog hingga akhir tahun 2019, semoga juga bisa kelarnya pas libur smester 6 ini soalnya libur lama banget dari 15 Mei – 22 Agustus :D tapi kepotong sama KP 1 bulan heheheh:D

Terakhir nih sebelum aku tutup untuk serial  kupas Tuntas Jurusan Rekayasa Pertanian ITB ini aku mau titip pesan untuk meramaikan blog aku :D saran, kritikan, pertanyaan, sanggahan, dan lain-lainnya sangat aku tunggu lho kawan2ku yang budiman… Aku terbuka untuk diskusi sama kalian :D Terus juga misalkan aku sering slow respons di Blog kalian bisa nemuin aku di akun2 berikut :D
  1. Ig @teguhrizki82 (disini aku jarang bet ngepost2 sih, Cuma suka mantau dan nyari2 hiburan aja)
  2. Twttr @tidurduluya (inimah perbacotan aku saat khilaf aja)
  3. WA 081519969597
  4. Line sama kaya nmr WA, id teguhrizkirizki/ teguhteguhrizki
  5. Email teguhteguhrizkirizki@gmail.com


Kayanya disana bakal lebih bebas untuk bertanya dan berdiskusi juga, akupun sangatttttt terbuka untuk membuka bimbingan (wkwkkwkwkwkwk) dan jadi teman cerita kalian kok J tetap semangat menjalani hari, jangan lupa bersyukur atas apa yang telah terjadi dalam kehidupan kalian kapanpun dan dimanapun, terus belajar dan bertaubat juga….

SEE YOU SOON :D (aku mau ngelanjutin sercing lagi neh)