nope.
i feel bored
really feel tired
so i want to quit,immediately.
YES
i will!
but please
remind me to keep it survived everywhere Id be belong
to keep me focus and finally its on the right track and make me close with my ultimate goal
nope.
i feel bored
really feel tired
so i want to quit,immediately.
YES
i will!
but please
remind me to keep it survived everywhere Id be belong
to keep me focus and finally its on the right track and make me close with my ultimate goal
Hallo, apa kabar? semoga teman2 yang berkesempatan membaca tulisan ini ada dalam keadaan terbaik sesuai harapan masing-masing yaa..
Tulisan ini dibuat di malam hari, di pojok kamar yang menghadap jendela kosan yang sudah hampir 10 bulan kutempati di Bandung.
"Ngapain di Bandung? Bukannya kamu domisili Ciamis? dan bukannya kamu udah lulus kuliahnya ya?"
Ya betul teman, aku asal Ciamis, dan alhamdulillah kuliah sarjanaku sudah selesai 1 tahun lalu dari program studi Rekayasa Pertanian ITB. Sekarang aku kembali berkutat dengan dunia akademik untuk memperoleh gelar selanjutnya, Magister Biomanajemen, tetap di kampus dan fakultas yang sama, SITH ITB! hehehehe :')
"Hoooo, emangnya ga cape? Ga cari kerja dulu?"
Cape? pastinya!! Harus mengambil lagi matakuliah, mengikuti kelas, dan mengerjakan tugas, tentunya selalu ada rasa cape yang dateng, apalagi 6 bulan kemarin aku udah fokus ngerjain penelitian akhir, a.k.a Tesis di Pangandaran... TAPI, entah kenapa rasa cape itu, sedih itu, kecewa, insecure, dan sebagainya ga menjadi halangan berarti buatku. Wajar aja gasi ngerasain hal yang menyedihkan? Malah kita sepatutnya menjadikan hal tersebut sebagai langkah kita untuk tetap dekat dengan pencipta kita, ngerasa jadi makin sadar dan bersyukur. Kalau lagi cape banget inget aja, masih ada hal yang lebih menyedihkan di luar sana atau di masa yang lalu yang pernah terjadi, namun orang itu atau dirimu sendiri sampai saat ini tetap kuat dan bertahan kan? jadi ya let it go aja, semangat!
Nah gitu, jadi mungkin ada yang bertanya juga, "Kok baru masuk terus udah langsung Tesis-an lagi?"
JADI ya , alhamdulillah aku berkesempatan menjadi salah satu mahasiswa yang bergabung dalam program fasttrack, yaitu program percepatan masa studi S1 dan S2. Singkatnya ketika menjalani tingkat akhir dalam tahap sarjana (semester 7 dan 8), aku sudah mencicil 12 sks S2 termasuk matakuliah penyusunan proposal Tesis... pusing ga tuh? pusing bgt, tapi seru parah gilaa gaiss.. tingkat 4, nyusun 1 TA pribadi, 1 TA kelompok, ngejabat di himpunan, dan sambil nyusun proposal Tesis :D tapi buat yang suka menantang dirinya masing-masing kaya aku ini, program fasttrack ini cocok banget sih.. Tekanannya tak terkira wkwk dannnn ada juga enaknya, dimana selain kita dapet kesempatan kuliah dengan waktu yang lebih cepat, program ini dibiayai secara FULL whehehe (kalo dapet beasiswa sih itu juga) tapi mostly anak2 fasttrack udah ga aku diragukan lg si xixixi
Long story short....... Bandung malam ini (11/6/2021) habis diguyur hujan, yiiszzz!! dan entah kenapa tbtb aku teringat pengen nulis produktif, mulai dari tulisan keseharianku, atau tulisan2 yang bermanfaat lainnya (kalo ada), jadinya gini deh.
"LALU,
APA HUBUNGAN JUDUL DENGAN TULISANNYA?
DARITADI BELUM
TERNOTICE SESUATU YANG BERHUBUNGAN DENGAN JUDULNYA NEEEH
??? "
hehehehe..
emang tadinya mau nyeritain beberapa tulisan, artikel, dan buku2 yang kasih inspirasi buatku akhir2 ini:D tapi SELALU bingung mulai dari mana.. langsung key takeways nya aja kali ya? wkwkkw
Jadi intinya tuh, kita jangan mau untuk terus menjadi diri sendiri, menjadi pribadi yang itu-itu aja, orang bilang 'be your self' aja itu menurutku jangan dijadikan pegangan.
Sebagaimana apa yg Charles Darwin, si ahli teori evolusi, bahwa manusia yang bertahan itu bukan yang terpintar atau terkuat, TETAPI yang bisa beradaptasi. JADI kita harus terus memperbaiki diri, self improvement, be better person, menjadi lebih baik. Yang udah OKE pertahankan, kalau bisa bagi dan tingkatkan, sedang yang masih belum OKE, lekas perbaiki dan minimize. setuju? tentu!
hehehe
Pokonya dimanapun, kapanpun, dalam situasi apapun, we should be improve and adapt to the challenges.. Mulailah dari hal kecil dan konsisten. Percayalah nanti kita akan menuai apa yang telah kita lakuin itu. SEMANGAT!!
Jadi keinget pas awal aku masuk ke ITB, kampus yang sangat kompetitif. Tingkat pertama aku sangat optimis dengan diri sendiri, kebanyakan belajar sendiri, dan fokus aja ga main bareng temen karena ngerasa belajar sendiri itu lebih efektif dan tentu untuk mempermudah dapetin target nilai memuaskan (cumlaud) pas lulus, bcs pas SD-SMA aku selalu belajar individual dan hasilnya oke bgt (selalu juara 1-3 terus) hehehe .. Tapi guys hasil kerjaku itu ga sesuai harapan sekali, pas di semester awal pengumuman nilai, IP ku masih dibawah 3, dari target 3,5 buat cumlaud:') tertampar sekali..
dannnn yahhh aku melihat bahwa ternyata aku terlalu PD pada kemampuan diri sendiri, singkat cerita abis dapet nilai itu aku shock dan yahh mikir gimana cara utk memperbaikinya :D dan gimana yaa, aku nemu buku / artikel/ post IG gitu pokonya yang ngubah mindset untuk berubah, dan kayanya cocok sama kondisiku waktu itu.
dari situ aku mulai terbuka, perbanyak belajar kelompok, cari metode baru, nyari mentor dll, daannnn hasilnya, di semester 2 aku bisa bayar keterpurukan aku dengan cukup puas sih:D, hasil akhir IPK tingkat pertama bisa nutupin nilai semester 1 jadi diatas tiga wkwkkw (wlopun lebih dikit, jadi 3.05 klogasalah) dan banyak relasi lain karena disitu aku ga terlalu mentingin akademik aja, tp ikut unit mahasiswa, paguyuban, dan lainnya yang ngerubah banget diriku dalam jangka waktu yg berkelanjutan ehehehe
nah berdasarkan pengalaman itu aku belajar kalo emang trnyata menjadi pribadi yang fixed mindset itu kurang baik utk diterapkan. Walaupun secara akademik kita emang diatas rata-rata, tapi kita perlu memperbaiki itu semua dengan berbagai softskill, relasi, dll Mindset atau kebiasaan untuk ga jadi diri sendiri ini membawaku keberbagai pencapaian lain selama kuliah, salah satunya menjadi mahasiwa fasttrack ini, dapet berbagai beasiswa, organisasi, temen, dan secara akademik juga ikut kebantu (dari ip 2.88 di semester 1 2016 bisa di-carry sampe 3.68 diakhir kuliah, dimana sejak semester 6 sampe sekarang S2 udah mau luluspun alhamdulillah selalu dapet ip 4.00 wkwkkwk :D
yaaaaaa
asiiiikk
alhamdulillaaah
gitu ae dah ya, ga kerasa ujang udah berenti, dan playlist utube yg nemenin penulisan di blog ini udah berganti, semoga bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini, siapapun dan kapanpun itu. LET SHARE UR STORIES WITH ME TOO, jangan sungkan, jangan ragu, aku selalu senang untuk berbagi, membantu, dan berkomunikasi dengan klian hehe hit me in instagram, linkdn, twttr, email or anything.. THANKS!!!!
Hai! Udah lama jarang publikasi tulisan nih. Masih hangat-hangatnya dalam ingatan tentang fenomena COVID19 yang mengganggu semua bidang kegiatan masyarakat di dunia, aku sempet nulis tentang gimanasih pengaruh dan relevansi fenomena ini terhadap kegiatan perdagangan Internasional beberapa bulan lalu. MARI KITA SIMAK! SELAMAT MEMBACA :) š
Wabah pandemi Coronavirus
Disease 2019 (Covid-19) terus menyebar dengan cepat ke hampir semua negara
di dunia. Berdasarkan catatan Kementrian Kesehatan pada 2 September 2020 ini
jumlah kasus Covid-19 di Indonesia adalah 180.646 kasus dengan 129.971 orang di
antaranya telah dinyatakan sembuh (71.95%) dan 7.616 orang meninggal dunia
(4.22%). Hal tersebut tentunya mempengaruhi keberjalanan akan rantai
perdagangan internasional yang ada di Indonesia salah satunya adalah
perdagangan komoditas rempah-rempah secara internasional.
Meski telah ada kebijakan pemerintah dan organisasi
internasional untuk melakukan pembatasan dan hambatan dalam distribusi
barang/jasa selama pandemi Covid-19 ke berbagai negara importir, ternyata
pertumbuhan ekspor rempah Indonesia mengalami peningkatan. Tingginya permintaan
rempah-rempah di masa pandemi disebabkan berbagai negara mulai menyadari
manfaat dari rempah Indonesia tersebut bagi kesehatan dan menambah imun tubuh
(Alika, 2020). Diketahui menurut
Kementerian Perdagangan dalam masa pandemi ini ekspor rempah Indonesia pada
Januari hingga April 2020 mencapai US$ 218,69 juta atau naik 19,28%
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode Januari-April
2020, rempah yang paling banyak diekspor antara lain yakni lada (18,7%),
cengkeh US (17,04%), pala (12,11%), dan bubuk kayumanis (11,61%) (Pradana,
2020).
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat
melimpah dan didukung oleh kondisi iklim tropis yang menyebabkan berbagai
tumbuhan terutama rempah-rempah yang memiliki banyak keunggulan dan potensi
tumbuh subur sehingga menjadikannya sebagai suatu keunggulan komparatif yaitu bahan baku yang dapat diperoleh lebih
murah dibanding negara maju lain yang harus mendatangkan rempah yang sangat
bernilai tersebut dari tempat lain dengan biaya transportasi yang sangat mahal
(Amelia, 2016). Sebelum masa pandemi Covid-19 ini keunggulan komparatif tersebut memang dinilai sebagai suatu peluang
yang dijadikan oleh Kementrian Perdagangan dan pihak terkait untuk meningkatkan
devisa negara. Kemudian walaupun terjadi pembatasan, permintaan akan rempah
menjadi semakin meningkat dan membuat perdagangan atau impor pun menjadi
semakin tinggi pula, namun dengan berbagai proses atau karantina yang lebih
ketat dibanding sebelumnya. Salah satu yang membedakan atau menjadi mekanisme
baru dalam proses perdagangan ketika pandemi atau sesudah pandemi ini adalah
dengan diberlakukannya pengembangan sertifikasi produk dan peningkatan food safety mulai dari tingkat petani.
Sehingga, produk rempah harus dipastikan dahulu terbebas dari Salmonella, Aflatoksin,
dan patogen lain yang dikhawatirkan mampu memberikan dampak yang tidak
diinginkan.
Kondisi pandemi Covid-19 ini seharusnya tidak menjadi suatu alasan atau hambatan bagi para pelaku bisnis untuk memasarkan produknya ke berbagai negara. Hal ini seharusnya dijadikan suatu peluang baru yang menjanjikan dengan cara beradaptasi dan menciptakan mekanisme atau keunggulan baru. Sehingga keunggulan kompetitif yang dimiliki dan dianut oleh Indonesia mampu bertransformasi menjadi suatu keunggulan kompetitif dan inovatif (innovative advantage) yang kedepannya bisa terus dipadukan dengan inovasi dan integrasi dengan perkembangan teknologi sehingga pada akhirnya menciptakan devisa negara meningkat dan kesejahteraan yang lebih baik bagi semua pihak (Narastika & Yasa, 2017).
Lalu bagaimana mengenai relevansi kebijakan yang dicanangkan dapat mendorong kinerja Perdagangan Internasional di masa dan pasca pandemi Covid-19?
Perdagangan Internasional di tengah pandemi menyebabkan pemerintah dan berbagai lembaga beradaptasi dan berupaya agar hal tersebut mampu dihadapi dengan baik, salah satunya dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan atau aturan baru dalam skema perdagangan. Sebagai salah satu adanya kebijakan yang diberlakukan adalah mengenai pembatasan impor pada berbagai produk pertanian di Indonesia dibandingkan sebelum pandemi terjadi. Menurut Effendi et al. (2020) sejauh ini terdapat kurang lebih 80 negara yang telah mengambil langkah untuk melakukan larangan dan pembatasan ekspor akibat pandemi Covid-19. Hal tersebut memang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 yang semakin meresahkan, namun seiring berjalannya waktu hal tersebut membuat kondisi kebutuhan pangan terutama di dalam negeri menjadi memuncak harganya. Seperti yang telah terjadi pada bulan April-Mei lalu dimana adanya kebijakan pembatasan impor menyebabkan harga gula di pasaran melambung tinggi melebihi Harga Eceran Tertinggi sebesar Rp. 12.500,00- per kg menjadi Rp. 20.000,00- per kg akibat keterlambatan impor yang telah dibatasi.
Selain kebijakan tersebut, Pemerintah Republik Indonesia
pun mengeluarkan kebijakan terutama untuk meningkatkan kinerja perdagangan dan
pertumbuhan ekonomi karena jika tidak hal tersebut tentu akan membuat dampak
yang semakin panjang bahkan krisis suatu saat nanti. Kebijakan yang telah
diambil diantaranya disampaikan oleh Menteri Perdagangan Agus Suparmanto untuk
membuat para pelaku usaha agar lebih memprioritaskan produk dalam negeri untuk
dipasarkan dalam menumbuhkan perekonomian Indonesia, khususnya di tengah
pandemi Covid-19. Sedangkan untuk
perdagangan internasional Kementerian Perdagangan terus berupaya untuk
memastikan terlebih dahulu akan penyediaan bahan baku untuk industri domestik
yang mulai bangkit dan memiliki potensi di masa pascapandemi, salah satunya
industri kesehatan baik itu berupa peralatan kesehatan hingga bahan-bahan obat
atau herbal yang memiliki potensi tinggi dari keanekaragaman hayati Indonesia
yang cukup beragam.
Berkaitan
dengan perdagangan komoditas rempah yang terus meningkat tingkat permintaan
seperti penjelasan sebelumnya, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk
mendorong penetrasi ekspor tersebut ke negara non-tradisional seperti Saudi
Arabia, Uni Emirat Arab, dan Pakistan. Hal tersebut bukan hanya untuk
meningkatkan devisa negara, tetapi dilakukan untuk membantu kebutuhan di
manusia di negara lain yang membutuhkan bantuan, terutama obat-obat atau herbal
untuk menjaga kesehatan imun dalam menghadapi COVID-19 ini. Hal ini dianggap
sebagai salah satu bagian dari langkah strategis Kementerian Perdagangan yang berpedoman pada PERPPU Nomor 1 Tahun
2020, Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2020, dan Keputusan Presiden Nomor 11
Tahun 2020 salah satunya dengan memberikan stimulus ekonomi ekspor dan tetap
menggiatkan perdagangan internasional melalui forum-forum tertentu seperti
forum G20.
Relevansi kebijakan
yang telah dibuat pemerintah terkait perdagangan internasional setelah pandemi ini
seharusnya tidak bersifat proteksionisme karena kebijakan ini akan mengganggu
kelancaran dan ketersediaan pasokan di pasar yang akan berujung pada kelangkaan
maupun meningkatnya harga. Pemerintah seharusnya tetap menjalankan kesepakatan
atau kerjasama dengan negara lain sesuai kesepakatan Free Trade Agreement (FTA) untuk dapat meningkatkan arus investasi,
membuka pasar untuk produk ekspor, mengurangi hambatan perdagangan antarnegara
baik yang berupa pengurangan/eliminasi tarif serta pengurangan hambatan
nontarif (Saputro, 2020).