Minggu, 11 Juni 2017

Haruskah aku berhimpun?



Mahasiswa dalam hakikatnya adalah jelas sebagai makhluk sosial yang tentu tak mungkin bisa hidup dan menjalankan aktivitas hidupnya sendiri. Tak ayal semua perlu teman dan perkumpulan untuk melancarkan hajat nya agar terlaksana dengan lebih baik. Interaksi dan komunikasi satu sama lain mempengaruhi keberjalanan itu semua, dimulai dari mereka membuka mata sampai kembali menutup mata untuk terakhir kalinya di dunia pastilah membutuhkan bantuan dan interaksi dengan orang lain, bahkan hingga dia telah tiada pun masih tetap membutuhkan pertolongan orang lain. Keadaan berhimpun dalam kehidupan mahasiswa didefinisikan sebagai suatu wadah untuk berkumpul satu sama lain yang didasari dengan visi atau tujuan yang sama berdasar keprofesian atau bidang keilmuannya, guna saling melengkapi dan menyempurnakan kebutuhan. Sudah sepantasnya bahwa berhimpun ini dijadikan sarana utama dalam perkembangan bagi mahasiswa, karena ketika mereka bukan dalam posisi sebagai mahasiswa, berhimpun ini pun penting untuk dilakukan.

Bismillah, Himarekta Agrapana ^^
Menurut rangkaian sejarah, berhimpun ini telah menjadi dasar kesuksesan pertama bagi seorang manusia, apalagi mahasiswa tentunya. Kita harus bercermin pada masa lalu sejak ribuan tahun silam, para manusia purba telah melakukan perkumpulan atau berhimpun atas sesamanya dalam menjalankan kegiatan seperti mencari makan dan berlindung. Berbeda kasusnya bila mereka tidak menyatukan visi dan tujuan mereka satu sama lain, mungkin nantinya tujuan utama mereka tidak akan tercapai dengan langkah mudah dan pasti, sehingga malah membuat pertumpahan darah dan merugikan satu sama lain. Proses budaya yang telah mengakar dalam diri manusia sejak dahulu ini sama pula bila dilakukan oleh mahasiswa, mereka tentu tidak bisa melakukan pengembangan dan pemenuhan kebutuhan secara maksimal bila mereka tidak berkumpul satu sama lain.

Pada dunia kemahasiswaan, himpunan jurusan dijadikan suatu basis dan wadah utama dalam menyalukan aspirasi yang kuat kepada pihak badan eksekutif mahasiswa untuk ditindak lebih lanjut lagi. Lebih dari pada itu, peran himpunan jurusan pun cukup vital bagi mahasiswa program studi yang berkaitan, salah satunya sebagai ajang pengembangan keilmuan dan wadah perwujudan karya nyata yang sesuai sehingga mampu untuk diaplikasikan dan diterapkan dalam berbagai kebutuhan.

Beberapa mahasiswa di program studi pun tak sepenuhnya tergabung dalam wadah himpunan mahasiswa jurusan ini. Salah satu alasan mereka adalah pribadi mereka yang merasa telah mampu berdiri tenang dalam pemenuhan kebutuhan mahasiswa diluar himpunan mahasiswa. Hal ini tidak sepenuhnya benar, salah pun tidak. Karena hidup adalah pilihan dan takdir telah digulirkan. Namun perlu dikaji ulang bahwa dalam posisi mereka sebagai mahasiswa, berhimpun ini memiliki urgensi yang sangat kuat nantinya. Kita memang bisa berjalan sendiri namun hanya dalam waktu yang singkat, kita dipersiapkan agar dapat berjalan secara bersama-sama, dan mengembangkan asa bersama dalam waktu yang cukup lama bila kita bergabung dalam himpunan, karena sejatinya himpunan ini bukanlah sekedar perkumpulan biasa, ini melibatkan cinta dan kekeluargaan yang kuat dan melegenda.

 Bandung, 11 Juni 2017 
Teguh yang sedang mageran untuk pergi bukber

Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Prog. Rekayasa



Bissmillahirahmanirrahim
Yeahhh, masa TPB (tahap persiapan bersama) di kampus kebanggaanku, Institut Teknologi Bandung telah usai. Mungkin sudah 3minggu berlalu sejak masa itu berakhir dan aku belum sekalipun menceritakan tentang kisah dan perjuanganku selama disana. Bingung sih, haruskah aku ceritakan perjuangan konyol dan menggebuku untuk berada disini atau tidak. Karena aku merasa tak ada yang akan membaca dan terinspirasi dari perjuanganku ini, hahaha.
Sekilas saja aku bisa masuk ke Institut ini melalui jalur SNMPTN 2016 dengan bekal dan persiapan yang mungkin orang sekarang akan menganggap sepele hal ini. Tentu sajalah, untuk masuk sini katanya harus ada beberapa alumni sekolah yang sedang berkuliah di ITB karena akan dilihat track record prestasi dan segalanya. Nah aku kakak kelas terakhir  yang kuliah disini saja kalau tidak salah baru lulus dari ITB karena selisih angkatanku adalah 4tahun, wkwkkw. Tak aku perdulikan lebih banyak lah, mungkin dengan intrik Allah yang Maha segalanya bisa meloloskanku disini, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Program Rekayasa ITB 2016. Yups, panjang ya, jadi kita singkat menjadi SITHR ITB aja. 






Semuanya mungkin sudah tahu bahwa tahun pertama di ITB akan dikelompokan berdasarkan fakultas/sekolahnya dahulu selama satu tahun. Disini aku bergabung dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia sebanyak 181 (yaaa dari jatahnya 200 tersisa 182 an kalo tidak salah, karena sisanya mungkin telah memiliki jalan lain dari Tuhannya). Jumlah ini terhitung sedikit sekali dibanding fakultas/jurusan lain yang bisa mencapai 300 hingga 500 lebih. Mantap sekali ya, keluarganya makin banyak. Mengenai fakultasku tentunya ya, bisa dibilang fakultas ini adalah fakultas terbaru di ITB dengan 3 jurusan barunya pula yakni Rekayasa Kehutanan, Rekayasa Pertanian, dan Teknologi Pasca Panen lalu ditambah jurusan lamanya Rekayasa Hayati yang semuanya memiliki keistimewaan luar biasa dibanding jurusan lain menurutku. Oke ya aku tidak akan menceritakan jurusan2 itu kali ini, hehehe.


Mengutip dari blog kakak tingkatku bahwa SITH-R merupakan "interdisiplin llmu Kehayatan (Bio-sciences) dan Teknik (Engineering) yang diaplikasikan dalam perekayasaan berbasis biosistem untuk meningkatkan efisiensi fungsi dan manfaat biosistem untuk bioindustri." Intinya kita bukan hanya belajar life sciences atau ilmu murni biologi tentang agen hayati, seperti yang diajarkan di SMA dan di jurusan Biologi murni. Tetapi disini juga kita belajar ilmu teknik atau Rekayasa, atau dalam bahasa inggris disebut Engineering. Berapa persen perbandingannya? perbandingan antara ilmu murni biologi dengan ilmu teknik di SITH-R yaitu 50:50 persen! bahkan, lulusan dari SITH-R seluruhnya bergelar S.T atau Sarjana Teknik. Jadi cocok banget buat dedek-dedek yang suka ilmu Biologi namun gak suka diem di Lab berhari-hari, buat yang suka tumbuh-tumbuhan, punya cita-cita mendirikan industri bahan bakar motor dari daun kering, dan ide-ide gila yang menggabungkan ilmu teknik dan ilmu hayati. Hayati disini bukan berarti lelah ya bang, hayati disini adalah objek yang kita akan pelajari selama 4 tahun kuliah normal di ITB, yaitu tumbuh-tumbuhan dari  fitoplankton sampai pohon besar. itulah objek utama dari SITH-R. Lalu untuk apa sih sains dan teknologi digabungkan? dari definisi diatas, gampangnya sih tugas kita nanti bukan untuk meneliti bagaimana kita dapat menghasilkan sesuatu dari biosistem (itu tugas anak-anak SITH-Sains), tapi bagaimana meningkatkan efisiensi hasil penemuan dari SITH-Sains itu menjadi skala industri, yang dinamakan Bioindustri. contoh: kita tahu minyak biji jarak sangat prospektif untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utama, karena minyak jarak bisa dihasilkan terus-menerus (sustainable). Namun tentu saja dari satu pohon jarak hanya dihasilkan sedikit minyak. Cara bagaimana mengekstrak minyak jarak dari pohonnya itu tugas dari anak-anak Biologi, tugas dari SITH-R yaitu bagaimana meningkatkan hasil dari minyak jarak yang sedikit itu menjadi banyak dan dapat dipakai semua orang. itu gampangnya, namun ada banyak sekali aplikasi lainnya dari SITH-R. Termasuk bisa juga diaplikasikan pada bidang Perminyakan dan Pertambangan. mau tahu? simak penjelasan jurusan dan prospek kerja SITH-R di http://neduhdulu.blogspot.co.id/2016/02/kupas-tuntas-fakultas-sith-r-itb.html .

Asikkan ya? Maka dari itu yuk  kupas lebih jauh dan dalami sebaik-baiknya karena sekarang era perkembangan mikroorganisme dan agen hayati sangat berpengaruh dimasa depan. Asik!

                                                            Bandung, 11 Juni 2017
Seseorang yang berharap akan hari yang lebih baik, Teguh Rizki

Sabtu, 10 Juni 2017

Sesuatu yang Aku Cemaskan



Hari itu aku merasakan perasaan yang sering orang rasakan karena diriku, ya. Lidah itu memang lebih tajam dari pada pedang. Cocok sekali ungkapan tersebut. Lidah yang menimbulkan perkataan tak terkontrol akan membuat hati siapa saja menjadi remuk dan sedih. Ini juga yang telah aku lakukan pada orang lain, secara nyata dan berkesinambungan. Bukan karena tidak memiliki kesadaran akan aktivitas tersebut, namun aku tak cukup puas dan pintar memahami perasaan tersebut karena belum pernah merasakannya.

Hingga tibalah sekarang, orang yang mungkin juga telah aku sakiti hatinya melakukan hal itu padaku. Sakit, sungguh. Walaupun dia anggap hanya bercanda, atau mencoba untuk mengkritik perilakuku, tapi itu cukup untuk mematikan semangat ku dalam bertindak. Kali ini dia mengomentari cara berpendapatku dimuka umum yang mungkin katanya kurang penting dan tidak diangap oleh orang. Yeahhh. Jika memang benar sih ya tidak apa-apa. Tapi mungkin dia tahu sendiri akupun sedang mencoba aktif dan belajar berpendapat di muka umum untuk waktu sekarang. Nah itu juga rupanya yang mungkin dan pasti sering aku lakukan pada orang lain, teutama teman-temanku. Dalam benakku mungkin hanya berniat untuk bercanda dan bersenda gurau, namun lebih dari pada itu perkataan yang aku keluarkan mengakar dalam hati seseorang hingga mungkin ada satu diantaranya yang malah menjadi terpuruk dan merasa tak percaya diri.

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]

Lihat, sungguh jelas dalam Al-Quran bahwa mereka yang menjaga lisan tentunya akan mendapatkan kemenangan besar yang pastinya semua tahu bahwa kemenangan terbesar bagi pribadi ummat Islam adalah janji Allah akan syurga-Nya kelak. Pantaskan jika kita tidak bisa menjaga lisan kita maka amal kitapun akan berantakan sesuai dengan firman Allah tersebut, wallahu’alam.

Maka teman-teman yang aku cintai ini semoga hari kita didunia masih panjang dan ampunan dari Allah pun masih terbuka lebar, sehingga marilah kita sama-sama saling menjaga perkataan dan selalu menasihati dalam kebenaran. Niat kita mungkin baik untuk mengajak saudara kita pada jalan yang benar, namun eksekusi yang dijalankan tentu haruslah mendukung pula.
Sekian nasihat keras untuk diriku, semoga ada hikmah dari tulisan ini.Terimakasih.

Bandung 11 Juni 2017.
Teguh Rizki dalam Ramadhan ke 16 tahun 1438 Hijriyah.